Kukira inilah raja pemberani,
Yang bertahta di singgasana,
Ternyata masih bayangan lama,
Yang tak kunjung sirna.
Yang bertahta di singgasana,
Ternyata masih bayangan lama,
Yang tak kunjung sirna.
Konstelasi berubah, wajah baru muncul,
Namun ternyata, tak jauh dari yang dulu,
Di balik layar, senyum tak tampak,
Yang jadi penggeraknya tetap itu.
Berkat siapa kemenangan itu?
Bukan dari suara rakyat yang suci,
Bukan dari keyakinan yang murni,
Tapi dari bayang yang tak kunjung pergi.
Kukira zaman akan berubah,
Raja baru, harapan baru,
Tapi ternyata, di kursi itu,
Masih ada jejak lama yang membelenggu.
Jadi, siapa yang benar-benar berkuasa?
Apakah suara rakyat atau tawa yang tak nampak?
Jelas, kita masih menunggu—
Raja mana yang mati lebih dulu.
Bagus Abady,
Tamalanrea, Februari 2025.
0 Comments:
Posting Komentar