Pengadilan rasa


Dalam ruang sidang hatiku yang kosong,
Aku berdiri sendiri,
Bukti-bukti cinta yang dulu kukumpulkan,
Kini jadi saksi bisu yang tak terpakai.

Pasal-pasal janji kita yang pernah terucap,
Kini lenyap seiring waktu, 
Hukum pun tak bisa menuntut kembali,
Apa yang telah hilang dari genggaman.

Apakah ada pasal yang mengatur tentang perasaan yang terluka? 
Atau adakah undang-undang yang bisa menghapuskan sakit yang membekas di dalam dada? 

Di hadapan pengadilan hati ini,
Perasaan ini sebagai terdakwa, 
Dan cinta yang dulu menjadi hakim, 
Kini menjadi hukuman.

Ah, betapa beratnya memutuskan, 
Antara menerima atau menentang nasib, 
Setiap air mata adalah bukti,
Setiap ingatan adalah dakwaan.
 
Namun, jika cinta adalah kontrak tanpa klausul, 
Mengapa ada keputusan yang mengikat kita untuk saling berpisah?

Waktu mengadili dengan ketegasan,
Namun hati ini masih berharap, 
Kita akan kembali bertemu,
Dan rasa ini akan dibebaskan dari segala hukuman yang menjeratnya.

Bagus Abady,
Sudiang, Januari 2025
Share: