Rencana indahmu


Di awal perkuliahan kita bertemu,  
Teman biasa dalam status mahasiswa,  
Waktu demi waktu berlalu,  
Kita lulus dan menghilang begitu saja.

Setahun berlalu, aku menyapamu di Instagram,
Kau membalas dengan hangat,
Aku meminta nomor WhatsApp-mu,
Dengan emot senyum kau memberiku.

Dua tahun sejak mendapatkan nomor WhatsApp-mu,  
Kita berdua menjadi sangat dekat,
Tiada hari tanpa saling bertukar cerita,
Bahkan saat pergi umrah, kau membawaku dalam doa.

Oleh-oleh parfum dan sejadah yang kau beri,  
Senyummu hangat, mencairkan jarak,  
Namun di balik rasa ini, hati terdiam,  
Cinta yang kupendam, hanya kuasa diri.

Di suatu malam biasa, kau bercerita tentang rencana indahmu,
Betapa hatiku terhujam saat mengetahuinya,  
Selama ini, aku yang jatuh terjerat,  
Sementara kau, sahabat, tak merasa cinta.

"Aku sering memikirkan kita."
"Iya, kita memang sedekat itu."
"Itu yang aku takutkan."
"Maksudmu?"
"Aku jatuh cinta padamu, aku tahu hanya aku saja."
"Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku sangat menghargai persahabatan kita."
"Ya, aku tahu. Semoga lancar pernikahanmu."
"Terima kasih. Kamu sahabat terbaik. Semoga kita bisa terus berteman."
"Ya, semoga..."

Bagus Abady,
Daya, Oktober 2024
Share:

Sempurna dalam dunia yang fana


Di antara bisikan angin, aku berdiri terdiam,
Menatapmu dari jauh, dalam keramaian yang tak terhitung,
Kau bintang yang bersinar, sempurna dalam setiap langkah,
Sedang aku, hanya bayang-bayang, yang tak tahu arah.

"Kau tahu, kadang aku berharap," kataku dalam hati,
"Andainya berani, aku ingin menyatakan rasa ini,
Tapi bagaimana jika semua ini sia-sia,
Aku bukan siapa-siapa, dan kau begitu bermakna."

Kau tersenyum, menatap langit biru,
Sementara hatiku bergetar, tak berani bersuara,
"Tak apa, mungkin waktu akan menjawab,"
Juga rasa ini takkan pernah padam.

Di balik senyummu, aku terbenam dalam harapan,
Seolah semua kekurangan ini tak ada artinya,
Karena mencintaimu, adalah keindahan tersendiri,
Walau ku tahu, aku hanya mimpi yang tak terjamah.

Jadi di sini, aku tetap menanti,
Sebuah momen, seuntai kata, yang mungkin takkan ada,
Dalam kerendahan hati, kutuliskan sajak ini,
Untukmu, yang sempurna, dalam dunia yang fana.

Bagus Abady,
Daya, Oktober 2024
Share:

Biar saja hancur semuanya


Di sudut kamar yang gelap,
aku duduk bersandar pada dinding,
memandangi poster-poster impian yang pernah menghiasi hidupku. 

"Ada rasa kecewa dalam diri,
kenapa saya selalu kalah dalam semuanya?" pikirku, 
suara hatiku menggema dalam kesunyian. 

Setiap usaha yang kulakukannya seolah berujung pada kegagalan. 

Dari ujian yang tidak pernah lulus, 
hingga wanita yang kuidam-idamkan, 
semuanya berantakan.

Rasa ingin marah sudah meluap dalam kepalaku, 
berputar-putar seperti badai yang tak tertahan. 
"Tapi tak akan kulakukan karena buat apa?" 

Aku menatap langit-langit kamar, 
berusaha menenangkan diri. 
Mengamuk tidak akan mengubah apa pun; hanya akan membuatku terlihat lemah.

Sehari sebelumnya, 
aku baru saja mendapat kabar,
aku gagal lagi dalam sebuah seleksi.

Semua kerja keras, semua malam tanpa tidur, 
seakan sirna dalam sekejap. Aku merasa hancur, 
seperti kaca yang jatuh dan pecah berkeping-keping. 

"Sudah cukup bagiku, biar saja hancur semuanya!" desahnya, 
menatap bayangan dirinya yang terpantul di cermin.

Malam itu, 
aku menutup mata dan membayangkan hidupku yang berbeda, 
aku membayangkan kebangkitan dari keterpurukan. 

Dalam kegelapan, 
aku merasakan dorongan baru, sebuah harapan kecil. 
“Mungkin hancur bukanlah akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih baik,” gumamku.

Bagus Abady,
Sudiang, Oktober 2024
Share: