Negeri para penjahat

Di tanah ini kita merdeka, katanya,
Terbebas dari penjajahan, seolah sempurna,
Pahlawan dihormati, tetapi siapa yang tahu,
Kebebasan hanyalah bayangan palsu yang penuh tipu.

Sungai kehidupan mengalir dengan harapan,

Namun jernihnya telah terkontaminasi kemunafikan,

Janji-janji manis dari para pemimpin,

Hanya jadi angan yg diratapi dalam diam.


Di jalanan, rakyat berteriak meminta hak,

Tapi suaranya tenggelam, tak dipedulikan,

Tangan penolong, hanya berpura-pura,

Sang penjahat tersenyum lebar di balik meja-meja.


Indonesia, tanah penuh cerita indah,

Namun kenyataan jauh lebih kelam, penuh dusta.

Indonesia adalah tempat yang paling sempurna,

Untuk menikmati sisa hidup yang penuh derita.


Bagus Abady,

Sudiang, Februari 2025

Share:

Kekuatan dalam diri

Bertahun kita berjalan dalam kesunyian,
menyusuri jalanan yang penuh pertanyaan,
dalam perjalanan ini, kita bertanya,
mengapa hidup begitu keras dan penuh derita?

Namun, setiap badai yang datang,
mengajarkan kita untuk bertahan,
seperti pohon yang tak gentar pada angin,
akar kita menancap dalam, kuat, dan tenang.

Kadang, kita lupa bahwa kita bagian dari alam,
tercipta dari bumi yang menanggung beban,
dari debu yang membentuk bintang,
dari air yang menenangkan jiwa yang rapuh.

Dan ketika dunia terasa begitu berat,
ingatlah bahwa kita bukan hanya pecahan kecil,
kita adalah bagian dari kekuatan yang abadi.
Kenapa harus takut akan kerasnya hidup,
sedangkan kita diciptakan dari tanah yang menopang dunia.

Bagus Abady,
Sudiang, Februari 2025
Share:

Dalam pelukan hati

Di antara gelap dan cahaya,
tersembunyi kisah yang tak terucap,
di antara harapan dan rasa,
kita bertemu tanpa ragu, tanpa kata.

Cinta datang seperti angin yang lembut,
menyentuh jiwa yang terluka,
namun dalam setiap luka itu,
ada pelajaran yang tak ternilai harganya.

Kadang, cinta memaksa kita jatuh,
menghadapi realita yang tak mudah,
tapi di setiap jatuh, kita bangkit,
mencari cahaya dalam kegelapan yang datang.

Dan ketika hati meragukan,
ketika cinta terasa begitu jauh,
ingatlah—
kenapa harus takut akan luka dalam cinta,
sedangkan kita diciptakan dari hati yang penuh kasih,
tempat cinta tumbuh dan berkembang.

Bagus Abady,
Sudiang, Februari 2025
Share:

Badai yang tak terhindarkan

Oh pemimpin, raja di atas tahta,
Kau bersinar di dunia yang fana,
Kebal hukum, tak tersentuh marah,
Mengira dunia ini hanya milikmu saja.

Kolega-kolegamu, sahabat sejati,
Merampok, menipu, tanpa ampun lagi,
Kalian berkata, "Ini demi negara,"
Tapi yang kalian ambil hanya nyawa rakyat yang terluka.

Kini rakyat, yang sabar menunggu,
Kesabaran mereka sudah tak bisa tunggu dulu,
Mereka berdiri, marah membara,
Angin perubahan kini datang mendera.

Kau tertawa, mengira takkan terjatuh,
Namun tak ada kuasa yang abadi, tak utuh,
Hari ini mungkin matahari masih cerah,
Tapi awan gelap, siap menutup segala.

Siap-siaplah, wahai pemimpin berkuasa,
Karena badai marah sudah tak bisa ditahan,
Kekuasaanmu yang rapuh akan sirna,
Seperti pasir yang hilang diterpa angin yang kencang.

Saat itu, mungkin baru kau sadar,
Betapa kebohonganmu tak akan bertahan lama,
Dan rakyat yang dulunya diam membisu,
Kini bangkit, siap menuntut hak mereka yang utuh.

Bagus Abady,
Sudiang, Februari 2025
Share:

Mimpi buruk sejarah

Capek-capek belajar sejarah,
Harapan untuk masa depan cerah,
Tapi yang datang hanya nostalgia,
Nostalgia yang tak pernah hilang, tetap terasa.

Katanya, kita sudah belajar dari salah,
Tapi apa yang kita lihat?
Sejarah terulang, lebih parah,
Bungkus baru, isinya tetap sama, tak berubah.

Di panggung kekuasaan, senyum mengembang,
Tapi tetap digenggam masa yang lalu,
Teriak efisiensi, tapi uang menghilang,
Kontrak dan proyek, déjà vu masa silam yang terus berulang.

Dulu kita belajar tentang kebebasan,
Sekarang kita diajarkan kontrol yang mengekang,
Di mana suara rakyat hanya hiasan,
Dan kebebasan berpendapat sekejap menghilang
.
Bukannya memimpin menuju masa depan,
Kita malah mundur ke belakang,
Tapi jangan khawatir, demi stabilitas,
Kita lebih suka aman dalam kesalahan yang lama, yang terus berlanjut.

Capek-capek belajar sejarah,
Ternyata kita lebih suka tinggal di dalamnya,
Dan berharap, entah kapan,
Kita bangun dari mimpi buruk ini sejarah.

Bagus Abady,
Tamalanrea, Februari 2025
Share:

Raja yang tak nampak

Kukira inilah raja pemberani,
Yang bertahta di singgasana,
Ternyata masih bayangan lama,
Yang tak kunjung sirna.

Konstelasi berubah, wajah baru muncul,
Namun ternyata, tak jauh dari yang dulu,
Di balik layar, senyum tak tampak,
Yang jadi penggeraknya tetap itu.

Berkat siapa kemenangan itu?
Bukan dari suara rakyat yang suci,
Bukan dari keyakinan yang murni,
Tapi dari bayang yang tak kunjung pergi.

Kukira zaman akan berubah,
Raja baru, harapan baru,
Tapi ternyata, di kursi itu,
Masih ada jejak lama yang membelenggu.

Jadi, siapa yang benar-benar berkuasa?
Apakah suara rakyat atau tawa yang tak nampak?
Jelas, kita masih menunggu—
Raja mana yang mati lebih dulu.

Bagus Abady,
Tamalanrea, Februari 2025.
Share:

Pengadilan rasa


Dalam ruang sidang hatiku yang kosong,
Aku berdiri sendiri,
Bukti-bukti cinta yang dulu kukumpulkan,
Kini jadi saksi bisu yang tak terpakai.

Pasal-pasal janji kita yang pernah terucap,
Kini lenyap seiring waktu, 
Hukum pun tak bisa menuntut kembali,
Apa yang telah hilang dari genggaman.

Apakah ada pasal yang mengatur tentang perasaan yang terluka? 
Atau adakah undang-undang yang bisa menghapuskan sakit yang membekas di dalam dada? 

Di hadapan pengadilan hati ini,
Perasaan ini sebagai terdakwa, 
Dan cinta yang dulu menjadi hakim, 
Kini menjadi hukuman.

Ah, betapa beratnya memutuskan, 
Antara menerima atau menentang nasib, 
Setiap air mata adalah bukti,
Setiap ingatan adalah dakwaan.
 
Namun, jika cinta adalah kontrak tanpa klausul, 
Mengapa ada keputusan yang mengikat kita untuk saling berpisah?

Waktu mengadili dengan ketegasan,
Namun hati ini masih berharap, 
Kita akan kembali bertemu,
Dan rasa ini akan dibebaskan dari segala hukuman yang menjeratnya.

Bagus Abady,
Sudiang, Januari 2025
Share: